Laporan Akhir Kegiatan Penelitian & Penyusunan Dokumen Kajian Komoditas Ikan Ekonomi Penting
- Status : Diseminasi
- 2021
- Pusat Kajian Dinamika Sistem Pembangunan Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Brawijaya Malang
- Tim Peneliti:
Pusat Kajian Dinamika Sistem Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya - Badan Perencanaan dan Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Sikka
Ruang Lingkup Penelitian :
Kajian Komoditas Ikan Ekonomis Penting ini dilakukan di Kabupaten Sikka dengan mengambil wilayah penelitian di 16 (enam belas) kecamatan yaitu: 1. Alok 2. Alok Barat 3. Alok Timur 4. Kangae 5. Kewapante 6. Waigete 7. Talibura 8. Magepanda 9. Palue 10. Waiblama 11. Mapitara 12. Doreng 13. Bola 14. Lela 15. Lelo, dan Paga
Metodologi
- Analisis Pemetaan Sosial (Social Mapping) melalui tiga metode pemetaan sosial yaitu, Survey Formal, Rapid Apraisal, dan Participatory Apraisal
- Survey Formal, dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi standar dari sampel orang atau rumahtangga yang diseleksi secara hati-hati
- Rapid Rural Appraisal , Metode Rapid Appraisal meliputi: interview, fokus grup, pertemuan, observasi, penelitian kecil, dan analisis dat
Ringkasan Hasil
- Berdasarkan pengamatan pada profil hidro-geografis wilayah pesisir Kabupaten Sikka, ditemukan bahwa kandungan klorofil-a sebagai indikator kesuburan perairan berada pada kondisi yang cukup subur dengan suhu cukup hangat. Artinya, baik wilayah perairan utara maupun selatan Kabupaten,
- Berdasarkan analisis LQ, diperoleh beberapa jenis ikan yang dapat dikategorikan sebagai ikan ekonomis penting, yaitu tuna, selar, dan gurita. Pada dasarnya gurita bukanlah tangkapan sasaran nelayan di Kabupaten Sikka, namun gurita memiliki nilai ekonomi yang tinggi sehingga dapat dikategorikan sebagai ikan ekonomis penting Kabupaten Sikka. Jenis ikan yang sesuai untuk marikultur sesuai kondisi hidrogeografis adalah ikan kerapu
- Dalam analisis rantai nilai, terdapat lima pelaku ekonomi yang berperan dalam rantai nilai perikanan tangkap Kabupaten Sikka, yaitu nelayan sebagai produsen, Tempat Pelelangan Ikan (TPI), pengepul, pedagang, dan konsumen akhir. Pelaku ekonomi yang terlibat mempengaruhi pembentukan harga ikan. Keberadaan satu TPI di Kabupaten Sikka telah dimanfaatkan dalam proses jual beli ikan, dan perannya dapat lebih dioptimalkan. Belum ditemui sistem pelelangan pada proses jual beli hasil tangkapan nelayan
- Berdasarkan analisis SWOT, Kabupaten Sikka memiliki kekuatan berupa ketersediaan jenis ikan yang beragam, ketersediaan sarana penangkapan ikan seperti kapal, alat tangkap, dan rumpon juga telah tersedia dan sebagian besar ramah lingkungan sehingga menunjang kelestarian ekosistem laut. Selain itu, untuk penanganan pasca penangkapan telah tersedia pabrik es di Kecamatan Alok dan pabrik pembekuan ikan, meskipun jumlahnya masih perlu ditambah. Ditemukan pula eberapa kelemahan seperti terbatasnya manajemen usaha perikanan dan penanganan mutu ikan hasil tangkapan juga masih rendah.
Rekomendasi
- Efisiensi dan optimalisasi teknologi perikanan tangkap. Selama ini teknologi dan metode penangkapan yang digunakan seperti alat pancing dan rumpon, telah menghasilkan tangkapan yang cukup bagi nelayan, namun hal ini masih dapat dioptimalkan. Contoh modifikasi teknologi penangkapan yang dapat dilakukan adalah menggunakan alat bantu lampu untuk lebih menarik perhatian ikan. Modifikasi semacam ini cukup mudah diaplikasikan para nelayan dan diharapkan dapat meningkatkan produktivitas penangkapan ikan
- Perlu dikembangan industri pengolahan/pengalengan ikan dengan pertimbangan ketersediaan bahan di Kabupaten Sikka. Pemasaran hasil perikanan juga dapat KAJIAN IKAN EKONOMIS PENTING 102 dilakukan ke berbagai wilayah atau bahkan ekspor dalam bentuk yang sudah terproses. Selain meningkatkan nilai hasil tangkapan, aktivitas pengolahan hasil perikanan dapat menjadi bagian dari pemberdayaan masyarakat lokal
- Kekhasan status hidrogeografis, hasil tangkapan, dan tipologi sosiodemografi antar wilayah di kabupaten Sikka mendorong pembentukan kawasan kluster usaha perikanan, utamanya kawasan usaha perikanan berbasis komoditas ikan ekonomis penting (tuna, cakalang, selar, gurita, dan kerapu).
- Kawasan usaha perikanan di kawasan kluster usaha berbasis ikan tuna, cakalang, selar, gurita dan kerapu harus dibangun dengan manajemen pengelolaan yang terintegrasi, modern dan berkelanjutan dengan berpola kemitraan inti dan plasma yang saling menguntungkan, dengan saluran distribusi yang spesifik sesuai dengan komoditas ikan ekonomis penting.
- Diperlukan peningkatan pembangunan sarana dan prasarana perikanan, seperti Tempat Pendaratan Ikan (TPI). Dengan keberadaan TPI, maka penawaran harga produksi tangkapan ikan antara penjual dan pembeli dilakukan melalui penawaran terbuka sehingga harga produksi tidak ditekan secara sepihak oleh pengepul atau pedagang. Terjadinya pasar yang seimbang menjadikan dikelolanya pendapatan asli daerah (PAD), berupa retribusi jual beli ikan yang lebih baik. Selain itu TPI tersebut dapat ditingkatkan perannya sebagai tempat pelelangan ikan.
Tindak Lanjut
Riset ini dapat dijadikan sebuah pegangan bagi para akademisi, dan penentu kebijakan dan stakeholder untuk pengambilan kebijakan dalam Merumuskan strategi pengembangan usaha perikanan laut yang lestari, serta pengembangan kawasan marikultur dan industri olahannya di Kabupaten Sikka.
Isu Penting
Potensi pengembangan sektor perikanan belum dilakukan secara optimal bagi peningkatan kesejahteraan dan pendapatan. Salah satu penyebab utama kegagalan pengembangan usaha kelautan dan perikanan adalah mode pendekatannya yang sektoral, dan tidak terpadu, serta lebih berorientasi kepada sektor produksi semata. Kebijakan atau program pengembangan potensi kelautan dan perikanan seringkali hanya memperhitungkan bagaimana meningkatkan produksi tanpa mempertimbangkan aspek daya dukung lingkungan (carrying capacity).
Dokumentasi
- OPD Pengampu: BAPERIDA
- Sumber Dana: APBD II (DPA Bapelitbang Kab.Sikka)
