Kolaborasi untuk Sanitasi Berkelanjutan, Pemkab Sikka Matangkan Implementasi PPSP 2026

Pemerintah Kabupaten Sikka terus memperkuat komitmen
dalam mewujudkan layanan sanitasi yang layak, aman dan berkelanjutan melalui
Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) Tahun 2026. Melalui
rangkaian Coaching Clinic (CC) I hingga CC V, perencanaan sanitasi secara
bertahap dimatangkan, mulai dari identifikasi persoalan, penyusunan kebijakan
dan rencana aksi, penguatan dukungan pembiayaan dan kelembagaan, hingga
monitoring dan verifikasi langsung di lokasi kampung percontohan.
Rangkaian PPSP melibatkan Pokja Perumahan dan Kawasan
Permukiman (PKP) Kabupaten Sikka, Pemerintah Provinsi NTT, pemerintah pusat,
Perangkat Daerah, dunia usaha serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Kolaborasi menjadi bagian penting karena pembangunan sanitasi tidak hanya
berkaitan dengan penyediaan infrastruktur, tetapi juga regulasi, kelembagaan,
pembiayaan, perubahan perilaku masyarakat dan keberlanjutan layanan.
Proses
tersebut diawali melalui Coaching Clinic I pada 2 Juli 2026. Pada tahap
ini, Pokja PKP membahas kondisi dan tantangan pengelolaan persampahan serta air
limbah domestik di Kabupaten Sikka. Pembahasan mencakup kondisi sarana dan
prasarana, kelembagaan, regulasi, kemampuan pendanaan daerah, kebutuhan
investasi, hingga penentuan lokasi kampung percontohan. Desa Umauta diarahkan
sebagai lokasi kampung percontohan sektor air limbah domestik, sedangkan
Madawat menjadi salah satu lokasi untuk sektor persampahan.
Penguatan komitmen dilanjutkan melalui Coaching Clinic II
dan Audiensi pada 30 Juli 2026 yang dihadiri Bupati Sikka, Asisten Ekonomi dan
Pembangunan Setda Kabupaten Sikka, Pokja PKP Kabupaten Sikka serta perwakilan
PT Pertamina dan PT Pelindo. Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk
menyampaikan hasil pembahasan sekaligus memperoleh arahan dan dukungan terhadap
paket kebijakan pembangunan sanitasi Kabupaten Sikka.
Pada tahapan ini diperkenalkan paket kebijakan Sapa
Pesona Sikka yang mencakup tiga fokus penanganan, yakni Sikka Horo untuk
pengelolaan persampahan, Sora Sikka untuk pengelolaan air limbah domestik serta
Gong Sikka Bersahaja yang berfokus pada penanganan Buang Air Besar Sembarangan
(BABS). Implementasinya didorong melalui pembagian peran Perangkat Daerah serta
kolaborasi dengan masyarakat dan dunia usaha, termasuk melalui dukungan CSR.
Dalam arahannya pada CC II, Bupati Sikka menekankan
pentingnya peran Pokja PKP dan Strategi Sanitasi Kabupaten dalam mendukung
pembangunan daerah yang berkelanjutan. Koordinasi dan kolaborasi lintas sektor
perlu terus diperkuat agar kebijakan sanitasi memberikan dampak terhadap
peningkatan derajat kesehatan masyarakat sekaligus kualitas lingkungan.
Rangkaian kemudian
berlanjut melalui Coaching Clinic III pada 18 September 2026. Pembahasan
semakin diarahkan pada penajaman program dan kegiatan, kebutuhan pembiayaan,
regulasi, kelembagaan, quick win serta rencana aksi kampung percontohan.
Pemerintah daerah juga didorong mengoptimalkan APBD sekaligus mengonsolidasikan
berbagai sumber pembiayaan lainnya, seperti APBD Provinsi, APBN, hibah, CSR,
kerja sama swasta dan sumber pendanaan alternatif.
Hasil CC
III semakin mempertegas bahwa pembangunan sanitasi harus dilakukan secara
multi-aspek. Penyediaan infrastruktur harus berjalan beriringan dengan
penguatan regulasi, kelembagaan, partisipasi masyarakat dan kepastian
pendanaan. Dalam pembahasan tersebut, Madawat dinilai dapat menjadi lokasi
percontohan untuk penguatan kembali kelembagaan TPS 3R/KSM, sedangkan di Desa
Umauta pelaksanaan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) telah mencakup
pemicuan, pembentukan Tim STBM, pendampingan, verifikasi hingga deklarasi ODF.
Komitmen
tersebut selanjutnya diperkuat melalui Coaching Clinic IV yang turut dihadiri
Plt. Sekretaris Daerah Kabupaten Sikka. Tahapan ini menjadi penting untuk
memastikan rencana pembangunan sanitasi memiliki keterhubungan yang kuat dengan
proses perencanaan dan penganggaran daerah. CC IV diarahkan untuk memperoleh
dukungan Sekretaris Daerah selaku Ketua TAPD terhadap usulan program dan
kegiatan indikatif jangka menengah, termasuk mendorong integrasinya ke dalam
Renstra dan/atau Renja Perangkat Daerah agar dapat masuk dalam proses
penganggaran.
Dalam arahannya, Plt. Sekretaris Daerah Kabupaten Sikka
menekankan pentingnya memastikan rencana pembangunan sanitasi ditindaklanjuti
melalui program dan kegiatan yang konkret. Salah satu langkah yang tengah
dipersiapkan Pemerintah Kabupaten Sikka adalah rencana pembangunan Instalasi
Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) di lokasi TPA Wairii, dengan Detail Engineering
Design (DED) pembangunan IPLT yang saat ini sedang berproses.
Selain penyiapan infrastruktur, Plt. Sekda juga menekankan pentingnya
pendampingan dan penguatan kelembagaan pengelolaan Air Limbah Domestik (ALD).
Penguatan kelembagaan diperlukan agar pembangunan infrastruktur diikuti dengan
kesiapan pengelolaan, operasional dan keberlanjutan pelayanan kepada
masyarakat.
Hal tersebut menjadi semakin penting mengingat masih
terdapat tantangan dalam penyelenggaraan layanan sanitasi Kabupaten Sikka.
Capaian layanan pengumpulan sampah tercatat sebesar 27,7 persen, sedangkan
sampah terolah sebesar 2,7 persen. Pada sektor air limbah domestik, sebagian
besar rumah tangga telah memiliki akses sanitasi layak, namun akses sanitasi
aman masih menjadi tantangan karena belum tersedianya infrastruktur pengolahan
yang memadai.
Setelah melalui proses pembahasan, penajaman kebijakan,
program dan dukungan pembiayaan, rangkaian PPSP kemudian bergerak langsung ke
lapangan. Coaching Clinic V dilaksanakan melalui kegiatan Monitoring dan
Evaluasi serta Verifikasi Kampung Percontohan pada dua lokasi, yaitu TPS 3R
Madawat, Kecamatan Alok, untuk sektor persampahan dan Desa Umauta, Kecamatan
Bola, untuk sektor air limbah domestik.
Monitoring dan verifikasi menjadi bagian penting untuk
melihat secara langsung kondisi eksisting, mencermati kesiapan lokasi,
mengidentifikasi permasalahan dan kebutuhan penanganan serta memastikan
kesesuaian antara rencana aksi yang telah disusun dengan kondisi aktual di
lapangan. Dengan demikian, kampung percontohan tidak berhenti sebagai konsep
dalam dokumen, tetapi diarahkan menjadi praktik nyata pembangunan sanitasi yang
dapat terus diperkuat dan dikembangkan.
Di TPS 3R Madawat, perhatian diarahkan pada penguatan
kembali fungsi dan kelembagaan pengelolaan persampahan. Hal ini sejalan dengan
pembahasan sebelumnya yang menempatkan Madawat sebagai lokasi potensial untuk
penguatan kembali TPS 3R/KSM. Sementara itu, di Desa Umauta, monitoring dan
verifikasi menjadi bagian dari penguatan pelaksanaan sanitasi berbasis
masyarakat pada sektor air limbah domestik.
Rangkaian Coaching Clinic I hingga V menunjukkan bahwa
pelaksanaan PPSP Kabupaten Sikka bergerak secara bertahap dari identifikasi
persoalan, penyusunan kebijakan, penajaman program dan pembiayaan, penguatan
kelembagaan, dukungan perencanaan dan penganggaran, hingga monitoring dan
verifikasi langsung di lapangan. Proses tersebut menegaskan pentingnya
kesinambungan antara dokumen perencanaan dengan implementasi program.
Melalui PPSP Tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Sikka terus
mendorong terbangunnya kolaborasi lintas sektor dalam mewujudkan pengelolaan
air limbah domestik dan persampahan yang lebih baik. Rencana pembangunan IPLT
di TPA Wairii, proses penyusunan DED, penguatan kelembagaan pengelolaan air
limbah domestik serta pengembangan kampung percontohan di Madawat dan Umauta
menjadi bagian dari langkah untuk menerjemahkan perencanaan sanitasi ke dalam
aksi nyata.
Sinergi pemerintah, masyarakat, dunia usaha serta berbagai pemangku kepentingan diharapkan terus diperkuat sehingga layanan sanitasi di Kabupaten Sikka semakin layak, aman, berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. _Bidang Riset dan Inovasi - BAPPERIDA Kabupaten Sikka_
- 03 Oktober 2026
- bidangrisetinovasi
- Bapelitbang
