Berpotensi, Desa Bloro menjadi Lokasi Sosialisasi dan Diseminasi Fermentasi Kakao
Diseminasi merupakan upaya penting Bidang Litbang dalam menyebarluaskan hasil-hasil kelitbangan. Salah satu hasil kelitbangan yakni Inovasi Cokelat Sikka (Cho-Sik) yang diproduksi UPT. Sikka Inovation Centre (SIC) dimulai pada Tahun 2018. Cho-sik menggunakan bahan baku kakao fermentasi, maka penyebarluasan hasil kelitbangan ini perlu dilakukan melalui kegiatan Sosialisasi dan Diseminasi Kakao Fermentasi di 7 Kecamatan yakni : Nita, Bola, Hewokloang, Waigete, Paga, Mego dan Lela. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Bidang Litbang pada Bapelitbang Kabupaten Sikka dengan menggandeng Dinas Pertanian Kab. Sikka, Yayasan Caritas Keuskupan Maumere dan UPT. SIC.
Nita menjadi kecamatan pertama dilaksanakannya kegiatan Sosialisasi dan Diseminasi Kakao Fermentasi pada Rabu, 29 Juni 2022. Data dari Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Produksi kakao tertinggi di Kecamatan Nita yakni sebesar 2.136 ton dengan produktivitas 1.236 kg/ha. Desa Bloro menjadi pilihan tempat dilaksanakannya kegiatan ini. Sebanyak 16 org Petani Kakao yang menjadi perwakilan dari Kelompok Tani di Nita hadir mengikuti kegiatan ini. Kegiatan diramu dengan penyampaian materi oleh para Narasumber yakni Kepala Bidang Perkebunan pada Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Kepala UPT. Sikka Innovation Centre (SIC), Caritas Keuskupan Maumere, Kepala Bidang Perekonomian dan Sumber Daya Alam pada Badan Perencanaan dan Litbang Kabupaten Sikka.
Di bawah naungan pohon kelapa, di pondok kebun milik Bapak Fransiskus X. Nurak, para peserta sangat antusias mengikuti kegiatan. Melakukan fermentasi kakao di Kecamatan Nita bukan hal yang baru. Salah satu Petani kakao di Desa Bloro, Bapak Gondo diberi kesempatan untuk berbagi cerita dan pengalaman dengan Petani lain. Kakao fermentasinya telah menembus penjualan 1000 kg saat panen terbesar. Beliau juga merupakan salah satu petani yang hasil fermentasi kakaonya telah di beli dan digunakan UPT. SIC untuk memproduksi Cokelat Sikka.
Kepala UPT. SIC, Saifun saat memperkenalkan produk Cho-sik, mengatakan bahwa jumlah produksi kakao fermentasi di UPT. SIC sebanyak 100 Kg dalam seminggu, total produksi 300-400 kg dalam sebulan, menghasilkan 1.125 Cokelat Bar dan 63 kg Bubuk Cokelat. Total 4.500 cokelat bar dan 300 bungkus bubuk cokelat dalam sebulan. Selama ini UPT. SIC membeli kakao fermentasi dari petani dengan harga 38 ribu Rupiah.
Pada kesempatan yang sama, Kanis Kasih, dari KPSE Caritas Keuskupan Maumere menyampaikan bahwa Yayasan Caritas telah berkontribusi mendampingi petani Kakao di 13 paroki di 7 kecamatan dan 24 desa melakukan fermentasi kakao. Melalui Koperasi Pemasaran Romeo, Yayasan Caritas menjalin kerja sama dengan buyer untuk menampung kakao fermentasi dari petani yang menjadi binaan dengan harga yang lebih tinggi dari harga kakao asalan. Beliau menegaskan bahwa KP Romeo bukan pedagang melainkan menjadi jembatan bagi petani yang adalah umat dengan pembeli untuk meningkatkan pendapatan petani. Selanjutnya Mateus Manu, Manager KP Romeo yang telah berpengalaman dengan kakao fermentasi dihadapan Petani saat praktek fermentasi menyampaikan “Kita melakukan fermentasi kakao sesuai permintaan pasar. Fermentasi kakao yang bagus dilakukan dalam kotak yang telah dilubangi dinding-dindingnya. Fermentasi yang ideal adalah fermentasi 5 hari. Biji kakao yang dimasukan dalam kotak ditutupi daun pisang, Setelah 2 hari fermentasi, suhu kakao naik sekitar 50°c, jika diraba dengan tangan akan terasa panas, hari ketiga harus melakukan pembalikan pertama, 2 hari kemudian pembalikan kedua, hari keenam kita angkat dan jemur. Satu hal yang perlu kita perhatikan saat kita melakukan pembelahan, kita harus melakukan sortasi pada biji. Salah satu yang menjadi permasalahan dalam fermentasi kakao adalah susah membentuk mentalitas petani untuk membuat fermentasi yg baik.”
Menutup kegiatan, Sekretaris Bapelitbang, Ambrosius Peter, menegaskan agar para Petani Kakao setelah mengikuti pelatihan hari ini, harus sudah mulai melakukan fermentasi kakao, karena UPT. SIC dan Caritas Keuskupan Maumere siap menampung kakao fermentasi. Para Petani harus bisa memanfaatkan potensi kakao secara maksimal.
- 29 Juni 2022
- bidangrisetinovasi
-
Bapelitbang