Dukung Pembangunan Gender di Sikka Komnas Perempuan Lakukan Diseminasi Hasil Pengembangan Pengetahuan Terkait Kepemimpinan dan Ketahanan Perempuan Dalam Konteks Krisis Iklim

Kesenjangan Pembangunan antar gender di Sikka masih menjadi perhatian serius
pemerintah daerah yang menjadi salah satu sasaran daerah yang termaktub dalam Dokumen
Rancangan Awal Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Sikka Tahun
2025-2029 yaitu Terwujudnya pembangunan Berkeadilan Gender yang Inklusif dan
Berkelanjutan dengan tujuan daerah ”Meningkatkan kualitas sumber daya
manusia yang sehat, cerdas, produktif, dan berdaya saing. ”Spirit ini
sejalan dengan upaya Komnas Perempuan dalam meningkatkan resiliensi perempuan dalam
berbagai aspek kehidupan secara khusus terkait dampak krisis iklim terhadap
perempuan. Pada hari Rabu, tanggal 18 Juni 2025 bertempat di Hotel Pelita,
Komnas Perempuan menyelenggarakan Diseminasi Hasil Pengembangan Pengetahuan Terkait
Kepemimpinan dan Ketahanan Perempuan Dalam Konteks Krisis Iklim. Kegiatan ini
merupakan hasil dari kajian yang dilakukan oleh Komnas perempuan pada Tahun
2024 dengan lokus Desa Ilinmedo, dengan sasaran perempuan. Adapun tujuan
kegiatan ini adalah Mengupayakan komitmen bersama untuk pelindungan hak
perempuan dalam konteks krisis iklim, Memaparkan dan menyampaikan hasil
pengembangan pengetahuan, Menyampaikan rekomendasi kebijakan pemenuhan hak
perempuan dan kelompok rentan, Mendapatkan tanggapan atas rekomendasi dan saran
dari berbagai pihak untuk pemenuhan hak perempuan serta Mendapatkan masukan
dari berbagai pihak untuk tindak lanjut pengembangan pengetahuan dalam konteks
krisis iklim.
Adapun dasar
penetapan lokus kajian di Desa Ilinmedo adalah terkait krisis iklim di Maumere secara
khusus bagi kelompok rentan yaitu perempuan yang mengalami permasalahan terkait
akses ke lahan perkebunan akibat pembangunan Bendungan Napungete. Dalam
sambutannya Komisioner Komnas Perempuan, Chatarina Pancer Istiyani mengharapkan
kerja sama pemerintah daerah bersama stakeholder yang ada di Kabupaten
Sikka untuk bisa bersama-sama mewujudkan pembangunan gender di Sikka dengan
fokus penanganan kekerasan terhadap perempuan dan krisis iklim. Peserta yang
hadir sangat antusias dalam diskusi, turut hadir dalam kegiatan ini Fungsional
Perencana Bidang PPM pada Bapperida Sikka, Fungsional Perencana pada DP2KBP3A, Koordinator
TRUK-F Maumere, Kepala Unit Pelaksana Teknis Perlindungan Perempuan dan Anak, Unit
PPA Polres Sikka, Prodi Psikologi Unipa, Peneliti IFTK Ledalero dan Penanggung
Jawab Program Protection Yayasan FREN.
Terkait rencana
intervensi di Tahun 2026, Komnas Perempuan akan fokus pada isu kesehatan reproduksi
dan kepemimpinan perempuan dalam upaya meningkatkan resiliensi perempuan dalam
berbagai aspek kehidupan. Untuk diketahui data KK Perempuan Miskin Ekstrem Tahun
2023 sebanyak 5.986 KK, dengan kategori desil 1 sebanyak 2.576 KK, desil 2 sebanyak
2.426 KK, desil 3 sebanyak 772 KK, desil 4 sebanyak 212 KK. Beberapa strategi
pemerintah Kabupaten Sikka dalam upaya mewujudkan pembangunan Berkeadilan
Gender yang Inklusif dan Berkelanjutan yaitu :
1. Penguatan Tata Kelola Responsif Gender dan
Pengarusutamaan Gender (PUG)
2. Penguatan Sistem Data dan Perencanaan Responsif Gender
3. Penguatan
Sistem Perlindungan dan Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan
4. Peningkatan
Pemberdayaan Ekonomi Perempuan dan Akses ke Lapangan Kerja Produktif
5. Peningkatan Akses layanan dasar yang responsif gender
untuk peningkatan kualitas hidup.
6. Afirmasi
ekonomi, sosial, politik, birokrasi, dan penguatan peran strategis perempuan
dalam pengambilan keputusan.
7. Reformasi
Sosial dan Edukasi Anti Patriarki
Beberapa rekomendasi
hasil kajian dan diskusi yang menjadi bahan input dan RTL adalah sebagai
berikut :
1.
Penguatan
partisipasi perempuan melalui penciptaan akses dan ruang kegiatan, baik melalui
diskusi, konsultasi publik, dan aksi bersama untuk meningkatkan kekuatan
jaringan dan layanan;
2.
Pengembangan
penelitian, pendataan, ruang pembahasan, dan publikasi terkait konsep dan
praktik terkait penanganan kerusakan lingkungan (kelitbangan, pendataan
terkait isu perempuan dan kerusakan lingkungan);
3.
Peningkatan
alokasi anggaran yang responsif gender untuk peningkatan kapasitas, literasi
digital, dan kegiatan alternatif lain yang mendorong peningkatan sumber mata
pencarian lokal dalam adaptasi krisis iklim, khususnya penyediaan data sasaran penerima
program bantuan/pemberdayaan bagi perempuan miskin ekstrem dan pendampingan intensif
bagi kelompok tenun SANTE;
4.
Menjalin
kerja sama dengan lintas pemangku kewajiban untuk memberikan dukungan
pengembangan usaha berbasis potensi dan kebutuhan, serta penguatan program
penghapusan kekerasan terhadap perempuan di berbagai aspek dan dimensi
5.
Memberikan
dan fasilitas umum undukungan infrastruktur pokok tuk memaksimalkan respons
adaptasi krisis lingkungan, khususnya untuk kebutuhan perempuan.
Kontributor-CLS PPM Crew
- 19 Juni 2025
- bidangppm
- Bapelitbang
