Musrenbang RKPD 2027 di Kecamatan Alok Timur: Infrastruktur dan Akurasi Data Kemiskinan Jadi Perhatian Utama

Infrastruktur wilayah perkotaan, akses layanan dasar,
akurasi data kemiskinan, hingga penguatan kemandirian fiskal daerah menjadi
perhatian utama dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD
Kabupaten Sikka Tahun 2027 Tingkat Kecamatan Alok Timur yang digelar Kamis
(19/2/2026) di Hotel Pelita.
Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Bupati Sikka Simon
Subandi Supriadi, Anggota DPRD Kabupaten Sikka, unsur Forkopimca, Perangkat Daerah,
para Lurah dan Kepala Desa, serta berbagai unsur masyarakat termasuk Tokoh Perempuan
dan Perwakilan Penyandang Sisabilitas.
Camat Alok Timur, Kasianus Kei, SH, menegaskan bahwa
Musrenbang merupakan ruang strategis untuk memastikan kebutuhan riil masyarakat
terakomodasi dalam dokumen perencanaan daerah. Camat menyoroti kondisi Kantor
Camat Alok Timur yang dinilai belum representatif dibanding kecamatan lain
serta berharap adanya perhatian serius terhadap wilayah perkotaan seperti Alok
Timur dan Alok Barat.
Isu infrastruktur mengemuka dalam sesi diskusi. Sejumlah Tokoh
Masyarakat menilai Kecamatan Alok Timur sebagai salah satu penyumbang
Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang cukup besar, namun belum diimbangi dengan
dukungan sarana pemerintahan yang memadai. Optimalisasi jalan kawasan pesisir
serta penataan Terminal Lokaria dan Terminal Barat turut menjadi perhatian.
Di sektor ekonomi, peserta Musrenbang mendorong kebijakan
anggaran yang lebih berpihak kepada petani, nelayan, dan peternak dalam
mendukung ketahanan pangan dan implementasi program nasional. Kepala Bidang
Infrastruktur dan Kewilayahan pada Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan
Inovasi Daerah Kabupaten Sikka menjelaskan bahwa Pemerintah telah
mengalokasikan 20 persen anggaran untuk ketahanan pangan dan terus memperkuat
rantai pasok dari hulu ke hilir.
Forum juga menekankan pentingnya mendorong kemandirian
fiskal daerah melalui peningkatan penerimaan pajak, khususnya Pajak Bumi dan
Bangunan (PBB), sebagai salah satu sumber PAD yang potensial. Peningkatan
kesadaran dan kepatuhan masyarakat dalam membayar PBB dinilai menjadi langkah
strategis untuk memperkuat kapasitas keuangan daerah agar pembangunan tidak
semata bergantung pada dana transfer pusat. Selain itu, penguatan kemandirian
fiskal perlu didukung melalui optimalisasi potensi-potensi lokal di desa,
terutama pada sektor pertanian, perikanan, dan peternakan, guna mendukung
kemandirian pangan. Pemanfaatan sumber daya lokal secara produktif diharapkan
mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperluas basis ekonomi
daerah.
Persoalan akurasi data kemiskinan turut menjadi perhatian
serius peserta. Sejumlah peserta mempertanyakan kesesuaian data dengan kondisi
riil di lapangan. Kepala BPS Kabupaten Sikka menjelaskan bahwa penentuan
tingkat kesejahteraan dilakukan melalui pengukuran 39 variabel yang dipetakan
dalam desil 1 hingga 10 sehingga data yang dihasilkan bersifat objektif dan
terukur. “Kemiskinan tidak bisa ditentukan hanya dari satu indikator. Ada
variabel pendidikan, kesehatan, kondisi rumah, aset, dan lainnya yang diukur
secara sistematis,” jelasnya.
Dari wilayah pesisir, Perwakilan Desa Koja Gete
menyampaikan keterbatasan akses transportasi dan pelayanan kesehatan meskipun
puskesmas telah diresmikan. Tingginya biaya transportasi laut dan darat dinilai
menjadi hambatan masyarakat dalam mengakses layanan dasar secara optimal.
Sementara itu, Perwakilan Penyandang Disabilitas berharap
adanya pendataan yang lebih rinci serta alokasi anggaran yang jelas agar
pembangunan di Kabupaten Sikka benar-benar inklusif dan ramah disabilitas.
Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Anggota DPRD Kabupaten
Sikka menekankan pentingnya pendampingan Aparat Desa dalam proses penginputan
data desil, penguatan inovasi ekonomi lokal, serta peningkatan kesadaran
masyarakat dalam pengelolaan sampah. Pemerintah daerah memastikan seluruh
usulan akan diproses melalui mekanisme SIPD dan menjadi bagian dari Rancangan Awal
RKPD Kabupaten Sikka Tahun 2027 sesuai ketentuan yang berlaku.
Musrenbang Alok Timur 2027 menegaskan komitmen bersama bahwa pembangunan harus direncanakan secara partisipatif, berbasis data yang akurat, serta didukung oleh kemandirian fiskal dan penguatan potensi lokal agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat. (Tim Musrenbang Kecamatan Alok Timur).
- 20 Februari 2026
- Solata
- Bapelitbang
