Pemkab Sikka Lakukan Pengambilan Data Kajian Risiko Bencana di Desa-Desa

Kabupaten
Sikka merupakan salah satu Kabupaten dengan tingkat kerawanan bencana tinggi di
Indonesia. Untuk memperkuat kesiapsiagaan dan ketangguhan masyarakat menghadapi
ancaman bencana, Pemerintah Kabupaten Sikka melalui Badan Perencanaan
Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (BAPPERIDA) bersama Badan Penanggulangan
Bencana Daerah (BPBD), Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Palang
Merah Indonesia (PMI), Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB), dan Yayasan
Flores Children Development (FREEN) melaksanakan kegiatan pengambilan data untuk
penyempurnaan Dokumen Risiko Bencana di sejumlah desa rawan bencana di
Kabupaten Sikka.
Pengambilan
data kajian difokuskan pada desa-desa dengan tingkat kerentanan tinggi,
khususnya wilayah pesisir utara dan selatan Kabupaten Sikka, meliputi: wilayah utara
(arah Kabupaten Ende): Kelurahan Wolomarang-Kecamatan Alok Barat, Kelurahan
Kota Uneng-Kecamatan Alok, Desa Waturia, Desa Magepanda, Desa Reroroja dan Desa
Legu Woda-Kecamatan Magepanda Magepanda, dan Desa Renggarasi-Kecamatan Tana
Wawo, Desa Gera-Kecamatan Mego. Wilayah utara (arah Kabupaten Flores Timur): Desa
Lewomada, dan Desa Wailamung-Kecamatan Talibura. Wilayah selatan (arah
Kabupaten Flores Timur): Kelurahan Waioti-Kecamatan Alok Timur, Desa
Watuliwung-Kecamatan Kangae, Desa Geliting-Kecamatan Kewapante, Desa Hoder, Desa
Mahe Kelan, dan Desa Nangatobong-Kecamatan Waigete, Desa Watukrus dan Desa
Ipir-Kecamatan Bola, Desa Nenbura-Kecamatan Doreng, Desa Kajowair-Kecamatan
Hewokloang, Desa Egon Gahar-Kecamatan Mapitara, Desa Kringa, dan Desa Talibura-Kecamatan
Talibura, serta wilayah selatan (arah Kabupaten Ende) di Desa Bu Barat dan Desa
Bu Nua Puu-Kecamatan Tana Wawo.
Pengumpulan
data dilakukan untuk menganalisis berbagai indikator risiko bencana yang
relevan dengan karakteristik wilayah pesisir Sikka, antara lain: gempa bumi,
tsunami, banjir, tanah longsor, letusan gunung api, kekeringan, gelombang
ekstrem dan abrasi, cuaca ekstrem, kebakaran hutan dan lahan, epidemi/wabah
penyakit, serta kegagalan teknologi dan konflik sosial.
Kepala
BAPPERIDA Sikka menyampaikan bahwa KRB ini merupakan langkah proaktif dalam
membangun perencanaan yang tangguh bencana. “Data dan rekomendasi dari kajian
ini akan menjadi dasar kebijakan, perencanaan tata ruang yang aman, serta
program penguatan kapasitas masyarakat dan pemerintah desa dalam pengurangan
risiko bencana,” tegasnya.
Kerja sama erat antara Pemerintah Daerah, Akademisi, dan Lembaga Non-Pemerintah diharapkan menghasilkan analisis risiko yang komprehensif, mengintegrasikan aspek teknis, sosial, dan kebijakan. BPBD menyediakan data historis dan dukungan teknis lapangan, UGM memberikan keahlian dalam pemetaan dan analisis kerentanan, sementara Yayasan FREEN menguatkan pendekatan partisipatif di masyarakat.
Hasil
akhir kajian diharapkan tidak hanya menjadi dokumen akademis, tetapi juga dapat
diimplementasikan secara nyata untuk membangun Kabupaten Sikka yang lebih siap,
aman, dan berkelanjutan menghadapi tantangan bencana di masa depan.
Hasil akhir kajian diharapkan tidak hanya menjadi dokumen akademis, tetapi juga dapat diimplementasikan secara nyata untuk membangun Kabupaten Sikka yang lebih siap, aman, dan berkelanjutan menghadapi tantangan bencana di masa depan (BidangRisetInovasi/SIKKA RinTA)
- 13 Agustus 2025
- Solata
- Bapelitbang
