• (0382) 2400415
  • bappeda.sikka@yahoo.co.id

Pemkab Sikka Lakukan Pengambilan Data Kajian Risiko Bencana di Desa-Desa

Kabupaten Sikka merupakan salah satu Kabupaten dengan tingkat kerawanan bencana tinggi di Indonesia. Untuk memperkuat kesiapsiagaan dan ketangguhan masyarakat menghadapi ancaman bencana, Pemerintah Kabupaten Sikka melalui Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (BAPPERIDA) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Palang Merah Indonesia (PMI), Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB), dan Yayasan Flores Children Development (FREEN) melaksanakan kegiatan pengambilan data untuk penyempurnaan Dokumen Risiko Bencana di sejumlah desa rawan bencana di Kabupaten Sikka.

Pengambilan data kajian difokuskan pada desa-desa dengan tingkat kerentanan tinggi, khususnya wilayah pesisir utara dan selatan Kabupaten Sikka, meliputi: wilayah utara (arah Kabupaten Ende): Kelurahan Wolomarang-Kecamatan Alok Barat, Kelurahan Kota Uneng-Kecamatan Alok, Desa Waturia, Desa Magepanda, Desa Reroroja dan Desa Legu Woda-Kecamatan Magepanda Magepanda, dan Desa Renggarasi-Kecamatan Tana Wawo, Desa Gera-Kecamatan Mego. Wilayah utara (arah Kabupaten Flores Timur): Desa Lewomada, dan Desa Wailamung-Kecamatan Talibura. Wilayah selatan (arah Kabupaten Flores Timur): Kelurahan Waioti-Kecamatan Alok Timur, Desa Watuliwung-Kecamatan Kangae, Desa Geliting-Kecamatan Kewapante, Desa Hoder, Desa Mahe Kelan, dan Desa Nangatobong-Kecamatan Waigete, Desa Watukrus dan Desa Ipir-Kecamatan Bola, Desa Nenbura-Kecamatan Doreng, Desa Kajowair-Kecamatan Hewokloang, Desa Egon Gahar-Kecamatan Mapitara, Desa Kringa, dan Desa Talibura-Kecamatan Talibura, serta wilayah selatan (arah Kabupaten Ende) di Desa Bu Barat dan Desa Bu Nua Puu-Kecamatan Tana Wawo.

Pengumpulan data dilakukan untuk menganalisis berbagai indikator risiko bencana yang relevan dengan karakteristik wilayah pesisir Sikka, antara lain: gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, letusan gunung api, kekeringan, gelombang ekstrem dan abrasi, cuaca ekstrem, kebakaran hutan dan lahan, epidemi/wabah penyakit, serta kegagalan teknologi dan konflik sosial.

Kepala BAPPERIDA Sikka menyampaikan bahwa KRB ini merupakan langkah proaktif dalam membangun perencanaan yang tangguh bencana. “Data dan rekomendasi dari kajian ini akan menjadi dasar kebijakan, perencanaan tata ruang yang aman, serta program penguatan kapasitas masyarakat dan pemerintah desa dalam pengurangan risiko bencana,” tegasnya.

 Kerja sama erat antara Pemerintah Daerah, Akademisi, dan Lembaga Non-Pemerintah diharapkan menghasilkan analisis risiko yang komprehensif, mengintegrasikan aspek teknis, sosial, dan kebijakan. BPBD menyediakan data historis dan dukungan teknis lapangan, UGM memberikan keahlian dalam pemetaan dan analisis kerentanan, sementara Yayasan FREEN menguatkan pendekatan partisipatif di masyarakat.

Hasil akhir kajian diharapkan tidak hanya menjadi dokumen akademis, tetapi juga dapat diimplementasikan secara nyata untuk membangun Kabupaten Sikka yang lebih siap, aman, dan berkelanjutan menghadapi tantangan bencana di masa depan.

Hasil akhir kajian diharapkan tidak hanya menjadi dokumen akademis, tetapi juga dapat diimplementasikan secara nyata untuk membangun Kabupaten Sikka yang lebih siap, aman, dan berkelanjutan menghadapi tantangan bencana di masa depan (BidangRisetInovasi/SIKKA RinTA)

  • 13 Agustus 2025
  • Solata
  • Bapelitbang